Indonotes

Learning about Indonesian language, history, society and culture

Month: January, 2014

Translation – Chairil Anwar: To a Beggar (Kepada Peminta-Minta)

Another of my translations from Chairil Anwar’s poetry collection Deru Campur Debu (The Roaring Mixed with Dust) can be found below.

To a Beggar

Ok, ok, I will face Him
Surrender myself and all my sins
But don’t look at me again
My blood will freeze

Don’t recount again
Face coverd in pockmarks
Pus weeping from it
Whilst walking you wipe it

A sound with each step
Groaning each time you look
Dripping from the air you come
Collapsing now and then

Troubling my dreams
Hurling me against the hard earth
A caustic feeling on my lips
A roaring in my ears

Ok, ok, I will face Him
Surrender myself and all my sins
But don’t look at me again
My blood will freeze

Kepada Peminta-minta
 
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
 
Jangan lagi kamu bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
 
Bersuara tiap kaumelangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kaudatang
Sembarang kaumerebah
 
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
 
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segela dosa.
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Advertisements

Translation – Chairil Anwar: Patience (kesabaran)

Patience

A can’t sleep
People chatting, dogs yapping
The distant world fades away
The darkness a stone wall
Pounded by incessant noise
Besides fire and ash

I want to speak
My voice is gone, my strength flown
Enough! Nothing’s happening!
Its a haughty world, take heed

The harshness freezing river water
And life no longer lives

I repeat the past again
With ears covered, eyes closed against the glare
Awaiting the inevitable abatement

Kesabaran

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak bicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba.